Mitos Tentang Gunung Semeru
Kelompok : 5
Anggota :
- Nabillah Ubaedillah (116040164)
- Siti Julyani (116040165)
- Juno I. Adenan (116040166)
Dosen:
Yanto Heryanto, S. Sos., M. Si.
Gunung
Semeru atau Gunung Meru adalah sebuah gunung berapi kerucut di Jawa Timur,
Indonesia. Gunung Semeru merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa, dengan
puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Gunung Semeru juga
merupakan gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia setelah Gunung Kerinci di
Sumatera dan Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat. Kawah di puncak Gunung
Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko. Gunung Semeru secara administratif
termasuk dalam wilayah dua kabupaten, yakni Kabupaten Malang dan Kabupaten
Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Gunung ini termasuk dalam kawasan Taman Nasional
Bromo Tengger Semeru. Semeru mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan
Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.Posisi
geografis Semeru terletak antara 8°06' LS dan 112°55' BT. Pada tahun 1913 dan
1946 Kawah Jonggring Saloka memiliki kubah dengan ketinggian 3.744,8 m hingga
akhir November 1973. Disebelah selatan, kubah ini mendobrak tepi kawah
menyebabkan aliran lava mengarah ke sisi selatan meliputi daerah Pronojiwo dan
Candipuro di Lumajang.
Menurut
kepercayaan masyarakat Jawa yang ditulis pada kitab kuno abad 15, Pulau Jawa
dulunya mengambang di lautan luas dan terombang-ambing dipermainkan ombak. Pada
suatu saat Sang Hyang Siwa datang ke pulau tersebut dilihatnya banyak pohon
Jawawut, sehingga pulau tersebut dinamakan Jawa. Namun pulau tersebut masih
terombang ambing tak menentu.
Para
Dewa lalu memutuskan untuk memaku Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung
Meru di India di atas Pulau Jawa. Untuk memindahkan Gunung Meru tersebut, Dewa
Wisnu kemudian menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa dan menggendong gunung
itu di punggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang
membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat
diangkut. Kedua dewa tersebut lalu meletakkan gunung Meru di bagian barat Pulau
Jawa. Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat
ke atas. Wisnu dan Brahma lalu memotong Gunung Meru dan meletakkannya satu di
ujung timur dan satu di barat. Potongan gunung yang berada di sebelah barat
membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung
Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru, sekarang dikenal dengan nama
Gunung Semeru. Di gunung inilah diyakini para dewa bersemayam.
Namun,
mitos itu terpecahkan oleh sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa gunung
sebenarnya bisa “bergerak”. Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan
kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas
lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya
dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa
benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun
kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka
bergerak saling menjauhi.
Para
ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni
50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam
sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh
tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang
dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.
Sekitar
180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya
bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah
Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa
kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali
India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi
menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.
Benua-benua
yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi
secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga
menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di
Bumi. Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang
dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana
berikut:
- Kerak dan bagian terluar dari
magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang
disebut lempengan.
- Terdapat enam lempengan utama, dan
beberapa lempengan kecil.
- Menurut teori yang disebut lempeng
tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa
benua dan dasar lautan bersamanya.
- Pergerakan benua telah diukur dan
berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun.
- Lempengan-lempengan tersebut
terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi
secara perlahan.
- Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)
Kini,
Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan
mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers
of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13).
DAFTAR PUSTAKA
https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Semeru
https://blog.basmalahtravel.co.id/fakta-ilmiah-tentang-gunung-gunung-berjalan
https://www.merdeka.com/peristiwa/legenda-gunung-semeru-dan-paku-bumi-jawa.html

Comments
Post a Comment